Triathlete Kita, Hasbi Lubis

Edited by RR, 16 Dec 2018. Foto dari @habislubistrilife.

Saya ingat, pertemuan pertama saya dengan Hasbi adalah di transition shower setelah swim leg IM 70.3 Putrajaya 2015. Ditahun yang sama juga kami berdua kemudian finish Ironman distance kami yang pertama, sementara Hasbi melanjutkan menamatkan 6 IM lagi dalam 3 tahun berikutnya. Akrab di panggil Pak RT, Hasbi biasanya dapat ditemui sedang bersepeda atau lari di sekitaran bintaro l, dan kalau teman-teman berpapasan jangan sungkan untuk menyapanya.

Teman-teman yang follow Hasbi di instgram banyak mengira bahwa seorang Hasbi adalah pensiunan yang sukses yang menghabiskan hari-harinya hanya untuk latihan dan race keliling dunia : ). Sebenernya apa profesi Hasbi sehari-hari ?

Haha. Saya juga lihat Instagramnya. Wah, enak banget ya, ikut lomba, jalan-jalan, lomba, jalan-jalan. Saya juga pingin kayak gitu. Eh, taunya akun instagram saya sendiri 😂.

Saya masih bekerja, sebagai karyawan kantoran. Jadi masih terikat waktu kerja dengan kesibukan perjalanan dinas yang lumayan juga. Hanya, saya beruntung bisa lebih mengharmoniskan perkerjaan dan kegiataan lain. Keluarga saya juga penyuka olahraga, jadi kami bisa sesuaikan waktu luang dan liburan untuk kegiatan yang sama.

Dengan kesibukan sehari-hari dan jumlah Long Distance Triathlon yang di lakukan dalam setahun, apa filosofi latihan Hasbi dan bagaimana mengatur waktunya?

Jawaban saya untuk pertanyaan ini dan selanjutnya cocok dan sesuai dengan keadaan saya, tapi belum tentu sesuai untuk orang lain.

Saya terus memperbaiki pola latihan saya. Sebagai atlet rekreasional, tujuan utama saya adalah untuk menjaga kesehatan dan kebugaran, bukan performa. Saya ingin terus menikmati kegiatan ini selama saya mampu. Apalagi saya banyak lihat beberapa role model yang juga karyawan dan penikmat hobi triatlon namun sudah berbelas bahkan berpuluh kali ikut triatlon jarak jauh (jarak Ironman). Saya yakin kita juga bisa.

Pada saat ini, saya sisihkan hanya 9-11 jam per minggu untuk latihan renang, sepeda, lari, dan latihan kekuatan dan kelenturan otot, dengan mayoritasnya ada di akhir pekan. Hanya sekitar 6% dari waktu kita per minggu, atau sekitar 1-1.5 jam rata-rata per hari, dengan satu hari untuk beristirahat aktif. Jadi, triatlon tetap menjadi kegiatan sampingan bagi saya.

Sudah lama juga saya terapkan filosofi “polarised training” dengan kira-kira 60-70% di intensitas ringan dan 20% di intensitas tinggi, sisanya ya sesuka saya 😀. Saya juga tidak lagi terikat pada sistem 3-4 bulan “training plan”, dengan blok-blok dan siklus-siklus yang rumit, walaupun saya tetap menjaga kenaikan intensitas mingguan dan minggu pemulihan. Intinya, saya membuat latihan saya menjadi hal yang rutin namun variatif, tidak spesifik untuk perlombaan tertentu. Saya berusaha membuat latihan menjadi menyenangkan, bukan menjadi siksaan, paksaan, apalagi penghalang bagi pekerjaan dan keluarga, dan juga sebaliknya.

Tentunya saya juga berusaha menjaga kualitas asupan makanan dan suplemen yang dibutuhkan, selain itu, latihan, bagi saya, adalah “Recovery Management” bukan hanya “Load Management”, artinya istirahat dan pemulihan menjadi lebih penting.

Karenanya, saya selalu rutin menggunakan alat-alat yang mendukung filosofi ini, seperti Heart Rate monitor, Blood Pressure monitor, Body Mass scale, Power Meter, rutin melakukan cek darah, dll. Banyak data untuk mengenal diri kita sendiri. Tetapi, seperti di dunia profesi, nilai data bukan di angka, rumus, atau grafik dan tabel; yang dihargai mahal adalah interpretasinya. Saya selalu kalibrasikan data tadi dan interpretasinya dengan bagaimana saya merasakan respon badan tanpa alat-alat tersebut, dan kemudian atur latihan saya.

Masih berkaitan dengan pertanyaan diatas, bagaimana Hasbi mengkondisikan tubuh dan latihan untuk meminimalisasi cidera ?

Kembali ke filosofi “Recovery Management” tadi. Tubuh dan mental kita memang butuh tekanan yang meningkat untuk melatih kekuatan dan daya tahan, namun peningkatan kekuatan fisik dan mental ini didapat sewaktu istirahat, bukan dengan menambah tekanan lagi, baik dalam bentuk jarak, intensitas, dan lama waktu tambahan dll. Istirahat dan pemulihan yang baik membuat tubuh dan mental mampu mengatasi tekanan latihan lanjutan.

Hal lain yang juga saya amati adalah kita, penggiat renang, sepeda dan lari, terlalu fokus di berenang, bersepeda dan berlari. Kegiatan ini semuanya monotonik dan dalam satu arah: ke depan. Sementara banyak otot penunjang di tubuh kita yang berkerja di berbagai arah. Saya mencoba memasukkan latihan beban untuk penguatan otot, latihan peregangan dan fleksibilitas untuk meningkatkan “Range of Motion” dan daya tahan otot, yang membantu meminimalisasi cedera. Jika saya ada waktu tambahan untuk latihan, saya akan lebih memilih menambah porsi latihan beban dan fleksibilitas daripada untuk berenang, berlari, atau bersepeda.

Di sisi lain, triatlet bangga akan kekuatan fisik dan mental kita. Namun, banyak kata-kata motivasi yang saya rasa kurang tepat. “No Pain No Gain”, “Finish what you started”, “Berjuang sampai titik darah penghabisan, Merdeka!!!”, dll. Kita terbiasa dengan letih dan ketidaknyamanan (discomfort) tapi sakit dan nyeri (pain) merupakan tanda yang tidak baik. Jika dalam latihan atau perlombaan kita cedera, kita juga tidak harus menyelesaikannya dengan resiko cedera lebih parah. Masih banyak perlombaan lain. Saya berlatih untuk sehat lebih lama bukan untuk jadi penyakitan. Dan untuk yang terakhir, ingat kita sudah merdeka sejak 1945 😉

Malah dengan prinsip di atas, alhamdulillah selama ini saya masih mampu menyelesaikan setiap perlombaan dengan senang dan tenang.

Jika terjadi cedera karena berbagai hal, maka istirahat yang baik akan mempercepat waktu pemulihan. Semakin cepat kembali ke kondisi prima. Jangan kuatir, butuh waktu lama untuk kehilangan stamina dan daya tahan yang sudah dibangun

Banyak orang merasa Triathlon adalah olahraga yang secara finansial mahal, apa pendapat Hasbi tentang hal ini ?

Hobi triatlon memang tidak murah, sebagaimana hobi yang lain juga yang bisa jadi lebih mahal. Tapi mahal adalah relatif. Klise memang.

Dari tidak murah menjadi mahal memang tipis sekali. Meng-upgrade perlengkapan yang tidak terbukti jelas menaikkan kinerja atau mengefisienkan usaha, daripada berlatih meningkatkan stamina dan tenaga merupakan contoh yang sangat umum ditemui; “Kemakan iklan”. Saya mengatasi hal ini dengan menjadi sangat kritis tentang semua perlengkapan yang benar-benar saya butuhkan.

Hal lain adalah ongkos perlombaan, terutama triatlon jarak jauh di franchise Ironman: biaya pendaftaran, perjalanan, dll, dan tentunya biaya waktu. Apalagi jenis perlombaan ini belum umum di Indonesia. Saya jadi harus efisien dengan hanya berlomba 2-3 kali setahun dan memanfaatkan perjalanan lomba sekaligus untuk liburan.

Namun saya amati banyak cara lain bagi penggiat hobi triatlon untuk tetap bisa melakukan hobi ini dengan ekonomis. Diantaranya bekerjasama dengan berbagai penyedia peralatan dan jasa yang terkait sebagai “Brand Ambassador” dengan syarat dan ketentuan yang bisa diikuti oleh orang awam. Cara lain tentunya dengan lebih selektif memilih waktu dan lokasi perlombaan.

Yang terakhir, kembali kedengaran klise, adalah dengan melihat manfaat kegiatan ini. Dengan berolahraga, menjaga makan, dan istirahat rutin, manfaat kesehatannya mudah-mudahan melebihi dari ongkos jika sakit. Dan anda juga keliatan lebih “cool” 😊

Diantara semua Ironman race yang pernah diikuti, course mana yang paling menantang untuk seorang Hasbi ? and what is your greatest satisfaction coming from doing Triathlon ?

Perlombaan paling menantang bagi saya adalah Ironman New Zealand 2017. Tempat dan rutenya sangat indah, kota dan penduduknya sangat mendukung, dan teman-teman seperjalanan cukup menginspirasi. Namun, cuaca di hari perlombaan berubah sangat menantang, ditambah di sesi sepeda saya juga mengalami beberapa masalah teknis. Cukup lengkap dan menarik 🙂

Kepuasan yang saya dapatkan dari triatlon bukan hanya sewaktu melintasi garis finish, namun mulai dari saya merasa tertantang untuk melakukannya – sejak bertahun-tahun sebelumnya – berlatih mulai dari tidak bisa berenang, sampai akhirnya bisa membantu orang lain untuk merasakan kepuasan yang sama untuk alasan yang tepat dengan cara yang tepat pula, tanpa terburu-buru.

Apakah Hasbi punya kebiasaan/ritual tertentu sebelum atau ketika race ?

Hanya lompatan “X” yang selalu saya lakukan sewaktu melewati garis finish di setiap lomba Ironman.

What is your advise to Indonesian triathlete out there who want to pursue Ironman dream

Saya memilih triatlon karena ingin menjadi Ironman. Tapi tidak semua triatlet harus membuktikan diri dengan menjadi Ironman. Dengan kata lain, setiap orang memiliki motivasi berbeda, dan itu hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah menjalani mimpi hidup orang lain dengan ongkos yang kita bayar mahal. Menjalani hidup sehat, fisik dan mental, dengan berolahraga renang, sepeda, dan lari, dan mungkin yang lainnya, bagi kebanyakan orang adalah tantangan dan impian hidup yang sulit terpenuhi. Bersyukurlah kita bisa menjalaninya, walau hanya amatir, tidak cepat, tidak kompetitif, dan seterusnya.

Namun jika mimpi anda memang menjadi Ironman, karena “Anything is Possible”, bukan karena “Everybody I know is already an Ironman”, maka lakukanlah dengan sabar dan benar, dengan dukungan keluarga dan komunitas, dan jangan berhenti disitu. Lanjutkan, tularkan.

Saat ini untuk race setup, pakai perlengkapan merk apa (sebutkan peralatan renang, sepeda dan lari – dan dimiliki sejak kapan)

Renang: kacamata Arena -2.0, celana renang Hydro, fins DMC Elite II, pull buoy dan paddle Speedo. Wetsuit Roka Maverick (2015).
Sepeda: Boardman AiR TT9.2, Boardman AiR 9.8, Shimano Ultegra 53/39 – 11/28, sadel Adamo Prologue, sejak 2014/2015. Power meter 4iiii (2017), Tacx Booster (2015) dan Tacx Neo (2018), helm Giro Attack (2015) dan Giro Aerohead (2018), sepatu Giro, kacamata Roka.
Lari: sepatu New Balance berbagai tipe (2012), Skechers GoRun (2018).

Trisuit, jersey sepeda, jersey lari, celana lari, kaos kaki: Fusion (2016)
Treadmill SportArt 1060, Kettler Multigym (2014), Suunto Ambit2 (2013)

Apakah major race yang akan diikuti di 2019 ?

Ironman Boulder (second time) dan Ironman Zurich.

Final thought from you ?

Triatlon adalah olahraga individual dengan dukungan banyak orang.

Saya memulai berolahraga karena dorongan istri saya yang lebih dulu berolahraga. Istri saya juga mulai triatlon lebih dulu dari saya. Dia ikut latihan di Tribuds 2nd Anniversary Mini Tri tahun 2014, sementara waktu itu saya belum bisa berenang, padahal saya yang punya impian Ironman. Tahun 2015 anak saya yang akhirnya ikut Tribuds 3rd Anniversary Mini Tri.

Mulailah impian triatlon anda dengan dukungan keluarga dan teman-teman komunitas.

Teman-tenan bisa mengikuti perjalan Tri Hasbi di IG @hasbilubistrilife